The News From KuALA !!!

Terwujudnya Kelestarian Ekosistem Pesisir dan Laut untuk Kesejahteraan Masyarakat

Hentikan Pemerasan dan Kekerasan Terhadap Nelayan

leave a comment »

Image

Siaran Pers

Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA)

Nomor: 005/SP/KuALA/IV/2012

Banda Aceh, Tanggal 29 April 2012

 Hentikan Pemerasan dan Kekerasan Terhadap Nelayan

Menanggapi berita pada halaman utama Serambi Indonesia minggu, 29 April 2012 tentang insiden pemukulan salah seorang nelayan oleh dua oknum anggota marinir di PPI Peudada Bireun, sehingga terjadinya aksi pelemparan Pos Lanal dan pembakaran speedboat marinir oleh massa nelayan yang mengamuk. Jaringan KuALA (Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh) sangat menyesalkan terjadinya insiden tersebut di masa Aceh damai dan Indonesia sudah merdeka selama 66 tahun lebih.

Read the rest of this entry »

Written by kualanews

April 29, 2012 at 8:20 pm

Posted in Uncategorized

Jaringan KuALA dan Nelayan Aceh: “Selamat Hari Nelayan Nasional”

leave a comment »

Siaran Pers

Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA)

Nomor: 003/SP/KuALA/IV/2012

Banda Aceh, Tanggal 5 April 2012

Tepat pada setiap tanggal 6 April diperingati sebagai Hari Nelayan Nasional. Ini suatu anugerah yang diapresiasikan ke Nelayan sejak 52 tahun yang lalu di masa Pemerintahan Orde Baru. Tetapi tidak cukup dengan sekedar ucapan selamat saja kepada Nelayan, realita di lapangan dapat dilihat, jangankan untuk implementasi kesejahteraan bagi nelayan, peringatan Serimonial Hari Nelayan Nasional tidak di laksanakan oleh Pemerintah sebagai rasa hormatnya kepada Pak Nelayan yang telah berjuang sekuat tenaga sampai mengorbankan nyawanya untuk memenuhi kebutuhan protein dan lauk pauk bagi Rakyat Indonesia, baik dari golongan paling kecil sampai ke Pejabat Pemerintahan.

Banyak orang lupa terhadap jasa Pak Nelayan, sehingga masyarakat Nelayan termarjinalkan, bahkan yang paling lucunya lagi, banyak orang yang tidak tahu bahwa tanggal 6 April sebagai Hari nelayan Nasional. Lebih banyak orang tahu terhadap peringatan hari-hari besar lainnya, terutama hari – hari mengenang sejarah perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Padahal masyarakat nelayan banyak juga menyumbangkan jasanya untuk Kemerdekaan Indonesia, seperti Laksamana Keumalahayati yang berada di Aceh, Yos Sudarso dan masih banyak pahlawan-pahlawan Nelayan lainnya.

Dalam konteks Propinsi Aceh, masyarakat Nelayan indentik dengan Lembaga Adat Panglima Laot yang memimpin wadah masyarakat Nelayan sekaligus basis masyarakat nelayan lokal untuk membangun kesepakatan bersama dalam mengatur dan mengawasi pelaksanaan norma dan ketentuan tata-cara pengelolaan sumberdaya perikanan yang lebih bertanggungjawab dan berkelanjutan. Lembaga Hukom Adat Laot/ Panglima Laot sudah ada sejak Kerajaan Samudera Pasai abad ke 14, dan dikukuhkan kembali dan diorganisir sesuai dengan perkembangan zaman sejak 22 Mei 2000. Dalam aturan adat Panglima Laot di Aceh, terdapat juga hari – hari istimewa bagi masyarakat nelayan setempat yaitu hari Pantang Melaut, itu wajib dipatuhi dan dijalankan, apabila ada yang melanggar akan dikenakan sanksi adat. Hari – hari tersebut adalah Hari Kenduri Laot sebanyak 3 hari, Hari Jum,at 1 hari, Hari Raya Idul Fitri 3 hari, Hari Raya Idul Adha 3 hari, Hari Kemerdekaan RI 1 hari dan Hari Memperingati Musibah Tsunami setiap Tanggal 26 Desember 1 hari. Jadi dalam 1 tahun masyarakat Nelayan di Aceh mempunyai 59 hari sebagai Hari pantang Melaut. Sanksi bagi yang melanggar adalah dilarang melaut serendah-rendahnya 3 hari dan selama-lamanya 7 hari.

Dalam momentum Peringatan Hari Nelayan Nasional yang jatuh pada hari ini tanggal 6 April 2012, Afijal selaku Plt Sekjen Jaringan KuALA menyatakan bahwa kami dari Jaringan KuALA dan mitra strategis lainnya, mendorong dan mendesak Pemerintah untuk pro terhadap Nelayan, dengan tidak membuat kebijakan-kebijakan yang merugikan masyarakat Nelayan.

Marzuki, Program Officer Jaringan KuALA menambahkan bahwa dalam situasi carut marutnya perpolitikan di negeri ini, masyarakat nelayan jangan dijadikan tumbal untuk memuluskan langkahnya menuju kursi singgahsana pemegang tongkat kepemimpinan. Wakil rakyat dan Pemerintah harus peka terhadap nasib Nelayan sekarang, apalagi di saat perubahan iklim ini. Nelayan semakin sulit melaut, jumlah tangkapan ikan semakin sulit diprediksi, wilayah penangkapan ikan terasa semakin tidak jelas atau bahkan semakin jauh dan sempit. Hal ini juga turut mendorong tingginya konflik antar nelayan. Lebih menyedihkan, ketiadaan, kekosongan bahkan penipuan data perikanan seperti menjadi kebiasaan dan keseharian kita. Belum lagi ketidakberpihakan yang masih terus dilakonkan oleh negara terhadap hak-hak kelola masyarakat lokal terhadap pengelolaan sumberdaya alam, termasuk di sektor perikanan, telah membangun apatisme luas dan laten yang sangat memprihatinkan.  Ternyata, terpenuhinya prinsip keselamatan pelayaran, ketersediaan BBM dengan harga terjangkau, keadilan dan kewajaran harga ikan antara nelayan dan pengumpul , ketegasan dan profesionalitas penegak hukum,  dan pengelolaan PPI/TPI yang baik, masih menjadi sesuatu yang langka terjadi di negeri ini.

Retno Sugito, Koordinator Kampanye Sahabat Laut (SALUT) Jaringan KuALA menyatakan, dalam momentum Peringatan Hari Nelayan Nasional, mari semua pihak untuk mengapresiasinya dengan implementasi langsung dengan mengadakan kegiatan-kegiatan social, seperti Kegiatan Peugleh Pasie, Reefcheck Terumbu Karang, penanaman pohon dan manggrove di pesisir dan masih banyak lagi bentuk kegiatan lainnya, yang semua itu merupakan hadiah buat nelayan secara tidak langsung, demi keberlanjutan nelayan mencari ikan di masa yang akan datang.

Mudah-mudahan Kesejahteraan Nelayan bisa terjawab di masa yang akan datang. Saleum Juang dan lestari untuk Laut dan Pesisir Aceh.

Banda Aceh, 05 April 2012

Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA)

Periode 2011-2014

dto.

Ratno Sugito, SKM

Koordinator Kampanye Sahabat Laut (SALUT)

HP : 085360866756

e-Mail : ratno.sugito@kuala.or.id | e-Mail cc: secretariat@kuala.or.id | jaring.kuala@gmail.com

Website: http://www.kuala.or.id/ | http://kualanews.wordpress.com/

Kontak terkait:

Afijal/ JaringKuALA: 081360588524

Marzuki/JaringKuALA: 081360382594

Written by kualanews

April 6, 2012 at 3:47 pm

Posted in Declaration

ODC-Unsyiah Adakan Pelatihan Monitoring Terumbu Karang di Ujong Pancu

leave a comment »

Siaran Pers

Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA)

Nomor: 028/SP/KuALA/VI/2011

Banda Aceh, Tanggal 25 Juni 2011

 

Mahasiswa dari Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) melakukan Pelatihan Monitoring Terumbu Karang Berbasis Masyarakat di Ujong Pancu – Aceh pada hari ini (25/6). Kegiatan ini tepatnya berlangsung di Sekretariat Remaja Pecinta Alam Indra Purwa (REPALA INPRA) untuk sesi ruang. Adapun sesi lapangan dilaksanakan di perairan sekitar Tuan Pulau, Ujong Pancu, Peukan Bada Aceh Besar.

Pelathan ini merupakan bagian dari Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) Pengabdian Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), Tahun 2011. Adapun mahasiswa (Tim Pelaksana PKM) yang mengajukan dan melakukan kegiatan ini terdiri dari 3 (orang) yaitu: Ferdiansyah, Zariansyah dan Samsul Bahri yang ketiganya juga merupakan anggota Ocean Diving Club (ODC) Unsyiah.

Adapun peserta utama pelatihan ini terdiri dari lebih kurang 7 (tujuh) orang masyarakat lokal yang kesemuanya juga merupakan anggota REPALA INPRA serta didampingi 3-5 orang dari ODC Unsyiah, Yayasan Lamjabat (YL) dan Sekretariat Jaringan KuALA.

“Kegiatan pelatihan ini utama ditujukan untuk masyarakat di Ujong Pancu mengingat wilayah ini memiliki potensi terumbu karang yang salah satu upaya pelestariannya adalah dengan meningkatkan kapasitas lokal setempat dalam monitoring lapangan”, sebut Ferdiansyah pada Kamis lalu (23/06), saat berhadir di Sekretariat Bersama (Sekber) Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA).

Zariansyah (Jerie) dalam sesi ruang memaparkan secara jelas hal-hal yang berhubungan dengan lingkup dan kepentingan monitoring terumbu karang, metodologi yang digunakan, kelengkapan bahan serta peralatan dan hal-hal teknis maupun prinsipil lainnya. “Metode yang akan kita gunakan adalah Manta Tow, karena metode ini sederhana, berbiaya rendah dan tidak perlu peralatan SCUBA,” jelas Jerie kepada peserta pelatihan.

Samsul Bahri menginformasikan bahwa sesi ruang dimulai sekitar pukul 10.00 WIB pagi tadi (25/6) dan dilanjutkan dengan praktek lapangan. “Setelah presentasi ruang, akan dilanjutkan dengan praktek lapangan,” sebut Samsul.

Metode Manta Tow telah dianggap sebagai suatu metode yang sesuai untuk diperkenalkan kepada masyarakat guna melakukan pemantauan terhadap kondisi terumbu karang yang ada di wilayah mereka. Metode ini juga terbukti sederhana, murah dan mudah diserap serta dilakukan oleh masyarakat desa.

Metode ini cocok digunakan untuk pengamatan seluruh kondisi terumbu karang di suatu area yang luas. Bila luas amatan terumbu karang kurang dari 10 ha dengan panjang garis pantai kurng dari 500 meter, lebih dianjurkan untuk menggunakan metode Transek Garis (Line Intersept Transect / LIT). Demikian dijelaskan dalam modul pelatihan yang disusun oleh Tim Pelaksana PKM.

Darmawi Musni, sebagai Koordinator Tim Laut, Yayasan Lamjabat (YL) yang turut mendampingi peserta pada pelatihan ini menyatakan bahwa kegiatan ini sangat mendukung upaya pengusulan perairan Ujong Pancu menjadi salah satu kawasan konservasi perairan (KKP) di Aceh Besar. “Kegiatan sangat mendukung proses pengusulan perairan Ujong Pancu sebagai kawasan konservasi sebagaimana telah dideklarasikan oleh Panglima Laot setempat pada Desember 2010 lalu,” urai Nawi.

Sementara itu, Arifsyah M. Nasution, selaku Sekjen Jaringan KuALA 2011-2014 yang sejenak menyempatkan hadir pada pelatihan ini mengatakan bahwa peran dan semangat komunitas remaja pecinta lingkungan yang berbasis di masyarakat menjadi semakin penting dan dibutuhkan. Hal ini mengingat kelak beberapa diantaranya akan tampil sebagai pemimpin-pemimpin muda dalam 10-15 tahun mendatang.

“Bila remaja setempat memiliki kapasitas memadai dalam pengelolaan sumberdaya alam di wilayahnya, maka kelak  pengelolaan kawasan konservasi berbasis masyarakat yang bertanggungjawab, ber-kearifan lokal dan berkelanjutan dapat diwujudkan.” terang Arifsyah. “Oleh karena itu kita sangat apresiatif dan salut dengan inisiatif rekan-rekan ODC-Unsyiah mengusulkan dan mengadakan kegiatan ini melalui jalur PKM Pengabdian Masyarakat,” tambahnya lagi.

 

Banda Aceh, 25 Juni 2011

Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA)

Periode 2011-2014

                                                                          

Dto.

 

Arifsyah M. Nasution, S.Si.

Sekretaris Jenderal (Sekjen)

HP : 081377242121

e-Mail : arifsyah@gmail.com | e-Mail cc: secretariat@kuala.or.id | jaring.kuala@gmail.com

Website: http://www.kuala.or.id/ | http://kualanews.wordpress.com/

 

Kontak terkait:

Ferdiansyah, ODC-Unyiah, HP: 081360745840

Zariansyah, ODC-Unsyiah, HP: 085260800862

Samsul Bahri, ODC-Unsyiah, HP: 085361153215

Darmawi Musni, Yayasan Lamjabat, HP: 081360400911

Written by kualanews

June 25, 2011 at 11:23 pm

Posted in Uncategorized

Pemko Banda Aceh Perlu Prioritaskan Pemulihan Lingkungan Pesisir

leave a comment »

Siaran Pers

Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA)

Nomor: 027/SP/KuALA/VI/2011

Banda Aceh, Tanggal 15 Juni 2011

 

Banda Aceh merupakan Ibukota Provinsi Aceh yang menjadi salah satu kawasan yang paling pesat pertumbuhan infrastrukturnya sejak diterjang bencana tsunami 6 tahun silam dan menghancurkan hampir 2/3 wilayah kota pantai ini.

Banyak landmark baik bangunan lama dan baru berdiri dan menghias kota bersejarah ini.  Meskipun demikian pertumbuhan infrastruktur yang pesat ini ternyata belum diselaraskan dengan upaya-upaya efektif untuk memulihkan dan meningkatkan daya dukung lingkungan, terutama di kawasan pesisir.

“Pemko Banda Aceh perlu menseriusi kegiatan pemulihan ekosistem alami pantai yang berada di 4 kecamatan pesisir yaitu: Meuraxa, Kuta Raja, Kuta Alam dan Syiah Kuala.” Demikian dinyatakan oleh Arifsyah M. Nasution, S.Si., selaku Sekjen Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA) Periode 2011-2014.

Jaringan KuALA berpandangan, selain infrastruktur fisik, upaya pemulihan ekosistem alami seperti hutan mangrove (bakau) dan tanaman pantai seharusnya menjadi program prioritas utama Pemko Banda Aceh dalam rangka meningkatkan daya dukung lingkungan di kawasan pesisir.

“Daya dukung lingkungan pesisir perlu dipulihkan dan ditingkatkan dengan melakukan restorasi hutan mangrove dan vegetasi pantai secara terencana, baik, benar dan partisiaptif. Ini mengingat pertumbuhan penduduk di beberapa kecamatan pesisir Kota Banda Aceh menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam 5 tahun terakhir pasca bencana tsunami,” Arifsyah menguraikan.

Berdasarkan hasil Sensus Penduduk (SP) 2010 yang dikeluarkan oleh BPS Kota Banda Aceh, menunjukkan total penduduk Kota Banda Aceh berjumlah 224.209 jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata sebesar 3.654/km2. Hasil olahan data SP 2010 juga memberikan gambaran bahwa sekitar 46,47% penduduk Kota Banda Aceh berada dan tinggal di 4 kecamatan pesisir, yaitu: Kecamatan Kuta Alam sebesar 18,79% sekaligus sebagai kecamatan dengan penduduk terbanyak di Banda Aceh, Kecamatan Syiah Kuala sebesar 15,75% sebagai kecamatan dengan jumlah penduduk kedua terbanyak, dan Kecamatan Meuraxa dan Kuta Raja yang berturut masing-masing sebesar 7,28% dan 4,65%.

Disamping itu SP 2010 juga menunjukkan bahwa peningkatan jumlah penduduk dalam kurun waktu 5 tahun terakhir terjadi di 4 kecamatan pesisir. Bahkan peningkatan jumlah penduduk Meuraxa tertinggi se-Banda Aceh, yaitu sebesar ±53%. Peningkatan jumlah penduduk di Kuta Raja, Syiah Kuala dan Kuta Alam secara berturut masing-masing adalah sebesar ±31%, ±8% dan ±4%.

“Daya dukung lingkungan pesisir yang buruk dan lemah akan menjadi bencana bagi masyarakat pesisir, apalagi bila pertambahan penduduk tidak diikuti dengan peningkatan daya dukung lingkungan di wilayah tersebut,” jelas Arifsyah.

“Kecenderungan pertumbuhan penduduk di kawasan pesisir Kota Banda Aceh dalam tahun-tahun mendatang akan terus meningkat. Hal ini terjadi selain trauma masyarakat terhadap bencana tsunami mulai pulih, juga diikuti dengan perkembangan kegiatan ekonomi dan bisnis di kawasan pesisir yang tumbuh pesat seperti aktivitas pelabuhan dan pariwisata,” tambah Arifsyah.

Sementara itu, Yudi Kurnia, SE, selaku Ketua DPRK Banda Aceh menyatakan komitmen dan dukungannya terhadap kegiatan masyarakat dan Pemko Banda Aceh dalam penyelamatan ekosistem pesisir Banda Aceh. Komitmen dan dukungan tersebut dinyatakan Yudi saat ditanyai langsung oleh Jaringan KuALA usai acara penanaman simbolis pohon cemara di lokasi Komplek Makam Syiah Kuala Selasa lalu (14/06) dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidp Sedunia yang diselenggarakan oleh Muslim Aid Indonesia (MAI) bersama WALHI Aceh dan Jaringan KuALA.

Arifsyah juga berpendapat bahwa perwujudan tata-ruang pesisir yang berkelanjutan penting menjadi tujuan pembangunan Kota Banda Aceh kedepan. “Kita juga mendorong agar prioritas pemulihan ekosistem pesisir Kota Banda Aceh penting memperhatikan kaidah dan pemanfaatan ruang yang baik dan benar, seperti dengan memastikan agar kawasan lindung setempat, dalam hal ini sepadan pantai dan sepadan sungai yang memiliki vegetasi khas pesisir seperti berbagai jenis bakau dan cemara, benar-benar terselamatkan atau dipulihkan,” harap Arifsyah.

“Penyelamatan kawasan lindung setempat di wilayah pesisir menjadi demikian vital mengingat sangat erat kaitannya dengan mempertahankan daya dukung lingkungan yang secara langsung akan dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Kota Banda Aceh,” tutup Arifsyah.

 

 

Banda Aceh, 15 Juni 2011

Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA)

Periode 2011-2014

                                                                          

Dto.

 

Arifsyah M. Nasution, S.Si.

Sekretaris Jenderal (Sekjen)

HP : 081377242121

e-Mail : arifsyah@gmail.com | e-Mail cc: secretariat@kuala.or.id | jaring.kuala@gmail.com

Website: http://www.kuala.or.id/ | http://kualanews.wordpress.com/

Written by kualanews

June 15, 2011 at 11:20 pm

Posted in Uncategorized

Ketidakhadiran Irwandi di Iboih: “Konservasi Perlu Sikap Dewasa”

leave a comment »

Siaran Pers

Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA)

Nomor: 026/SP/KuALA/V/2011

Banda Aceh, Tanggal 30 Mei 2011

 

Ketidakhadiran Irwandi Yusuf, dalam kapasitasnya sebagai Gubernur Aceh pada acara “Pencanangan Gerakan Selamatkan Pesisir dan Pengukuhan Kawasan Konservasi Perairan Aceh oleh Gubernur Aceh” di Iboih pada Minggu (29/05) tidak perlu menjadi kekecewaan berlarut masyarakat Iboih secara khusus maupun masyarakat pesisir Aceh.

“Pantas masyarakat kecewa mengingat judul kegiatannya juga ada menyebut bahwa akan dicanangkan dan diikukuhkan oleh gubernur,” sebut Arifsyah M. Nasution, Sekretaris Jenderal Periode 2011-2014, Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA).

“Tapi kekecewaan itu tidak perlu berlarut apalagi membuat masyarakat menjadi surut dan patah semangat untuk terus berjuang mewujudkan konservasi pesisir dan laut yang berkelanjutan,” lanjut Arifsyah.

Arifsyah menilai bahwa acara pencanangan dan pengukuhan tersebut adalah salah satu capaian dari kerja keras Pemerintah Aceh secara kolektif terutama oleh dinas terkait dengan dukungan penuh dari rekan-rekan Sekretariat Aceh Green. “Ini langkah maju Pemerintah Aceh dengan atau tanpa Irwandi, sehingga semangat konservasi ini tidak perlu pupus tanpa kehadirannya,” tegas Arifsyah.

Disamping itu, Arifsyah juga berpendapat bahwa adalah lebih strategis dan progresif untuk kita saat ini secara bersama-sama agar lebih bersikap dewasa, bijakasana dan memberikan teladan yang baik dan konsisten agar arah dan semangat konservasi Aceh berjalan pada rel yang benar.

Arifsyah lanjut berujar: “Bila Irwandi sedang tidak bersikap dewasa karena telah mengesampingkan kegiatan dinas resminya, maka kita tidak perlu ikut bersikap tidak dewasa”. Sebab tegas Arifsyah lagi: “Konservasi perlu sikap dewasa.”

 

Banda Aceh, 30 Mei 2011

Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA)

Periode 2011-2014

                                                                          

Dto.

 

Arifsyah M. Nasution, S.Si.

Sekretaris Jenderal (Sekjen)

HP : 081377242121

e-Mail : arifsyah@gmail.com | e-Mail cc: secretariat@kuala.or.id | jaring.kuala@gmail.com

Website: http://www.kuala.or.id/ | http://kualanews.wordpress.com/

Written by kualanews

May 30, 2011 at 11:17 pm

Posted in Uncategorized

Jaringan KuALA Apresiasi Langkah Pemerintah Aceh Kukuhkan Kawasan Konservasi Perairan dan Pesisir

leave a comment »

Siaran Pers

Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA)

Nomor: 025/SP/KuALA/V/2011

Banda Aceh, Tanggal 29 Mei 2011

 

Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA) menilai bahwa Acara “Pencanangan Gerakan Selamatkan Pesisir dan Pengukuhan Kawasan Konservasi Perairan Aceh oleh Gubernur Aceh” yang berlangsung hari ini, Minggu (29/05), di Iboih, Sabang merupakan langkah maju sekaligus menjadi bentuk pernyataan komitmen Pemerintah Aceh untuk penyelamatan ekosistem pesisir dan laut Aceh.

“Ini sebuah langkah progresif dan bentuk pernyataan komitmen Pemerintah Aceh terhadap penyelamatan ekosistem pesisir dan laut di Aceh” Ujar Arifsyah M. Nasution, Sekretaris Jenderal Jaringan KuALA Periode 2011-2014. “Kita sangat apresiatif dan salut terhadap kegiatan pencanangan dan pengukuhan tersebut,” sambung Arifsyah.

Disamping itu, Jaringan KuALA juga berharap pencanangan dan pengukuhan tersebut perlu ditindaklanjuti dengan langkah-langkah yang konkrit untuk memastikan adanya pengakuan, penguatan, pendampingan dan pengawasan hak-kelola masyarakat dalam pengelolaan wilayah konservasi pesisir dan laut secara bertanggungjawab dan berkelanjutan yang salah satunya dibuktikan dengan kebijakan program dan alokasi anggaran.

“Prioritas program dan alokasi anggaran untuk mendukung model-model pengelolaan kawasan konservasi pesisir dan perairan berbasis masyarakat yang efektif perlu dilakukan dan menjadi komitmen Pemerintah Aceh maupun pemerintah kabupaten/kota dimana lokasi kawasan konservasi tersebut berada” imbuh Arifsyah.

“Prioritas program yang jelas dan terukur serta alokasi anggaran yang memadai adalah salah satu bukti konkrit,” tegasnya lagi.

“Kita juga meminta agar kegiatan-kegiatan penguatan fungsi dan peran strategis lembaga panglima laot di tingkat lhok dalam pengelolaan kawasan konservasi pesisir dan laut yang bertanggungjawab dan berkelanjutan masuk kedalam strategi dan prioritas program seluruh dinas terkait se-Aceh,” jelas Arifsyah menutup pernyataannya.

 

Banda Aceh, 29 Mei 2011

Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA)

Periode 2011-2014

                                                                          

Dto.

 

Arifsyah M. Nasution, S.Si.

Sekretaris Jenderal (Sekjen)

HP : 081377242121

e-Mail : arifsyah@gmail.com | e-Mail cc: secretariat@kuala.or.id | jaring.kuala@gmail.com

Website: http://www.kuala.or.id/ | http://kualanews.wordpress.com/

Written by kualanews

May 29, 2011 at 11:14 pm

Posted in Uncategorized

“Bersih Pantai untuk Bumi”

leave a comment »

Siaran Pers

Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA)

Nomor: 024/SP/KuALA/IV/2011

Banda Aceh, Tanggal 24 April 2011


Menyambut Hari Bumi tahun 2011 yang jatuh pada Jumat (22/04) pekan lalu, Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA) melalui Program Rutin Bulanan Kampanye Publik “Aceh Biru” Aku Sahabat Laut (SALUT) pada Minggu pagi (24/04) melaksanakan kegiatan “Peugleh Pasie” atau bersih pantai di Pantai Ulee Lheu, Banda Aceh. Kegiatan Peugleh Pasie dalam rangka Hari Bumi 2011 ini mengangkat tema “Karena Bumi Si Planet Biru”.

“Tema tersebut sengaja diangkat untuk membangun kesadaran kolektif bahwa sudah seharusnya kita menjadikan laut sebagai halaman depan negeri ini,” ujar Arifsyah M. Nasution, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Jaringan KuALA Periode 2011-2014, saat membuka sesi perkenalan sebelum para relawan terjun melalukan pengutipan sampah.

“Kita juga sedang menggalang kemitraan dengan banyak pihak agar pada bulan Juni 2011 mendatang kegiatan bersih pantai berskala besar di Aceh dapat dilakukan, terutama mengoptimalkan dukungan dari siswa SMA dan Mahasiswa,”Arifsyah menambahkan.

Sementara itu, Koordinator Kampanye SALUT, Rika Astuti, menyatakan bahwa ada sekitar 22 orang relawan baik perseorangan maupun perwakilan dari berbagai lembaga dan komunitas lingkungan turut serta dalam kegiatan SALUT ini. Beberapa lembaga diantaranya adalah Remaja Pecinta Alam (REPALA) Indra Purwa, Discover Aceh Divers Club (DADC), Ocean Diving Club (ODC) Unsyiah, Yayasan Lamjabat (YL-Aceh) dan lembaga-lembaga anggota dan mitra strategis Jaringan KuALA lainnya. “Hari ini (24/04 –red) yang hadir ada sekitar 22 orang, bila ditotal dengan kegiatan penanaman mangrove di site Yayasan LEBah pada Kamis lalu (21/04 –red) berjumlah 50 orang lebih,” terang Rika.

“Sebenarnya hari ini juga ingin ada kegiatan nanam mangrove kembali, namun mengingat berdekatan dengan kegiatan penanaman Kamis lalu di site Yayasan LEBah, kita urungkan agar tidak terlalu kelelahan,” sambung Rika lagi.

Banda Aceh, 24 April 2011

Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA)

Periode 2011-2014

                                                                          

Dto.

 

Arifsyah M. Nasution, S.Si.

Sekretaris Jenderal (Sekjen)

HP : 081377242121

e-Mail : arifsyah@gmail.com | e-Mail cc: secretariat@kuala.or.id | jaring.kuala@gmail.com

Website: http://www.kuala.or.id/ | http://kualanews.wordpress.com/

Contact Person:

Rika Astuti, Koordinator Kampanye SALUT, 085277103939

Written by kualanews

April 24, 2011 at 11:10 pm

Posted in Uncategorized

Petambak Aceh “Go Green”

leave a comment »

Siaran Pers

Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA)

Nomor: 023/SP/KuALA/IV/2011

Banda Aceh, Tanggal 24 April 2011

 

Sebanyak 28 pengusaha tambak dari beberapa Kecamatan di Aceh mengikuti pertemuan dan pelatihan (temu-latih) terkait teknik penghijauan kawasan tambak dan pesisir yang dilaksanakan oleh Yayasan Lembaga Ekosistem Basah (LEBah) bekerjasama dengan lembaga internasional Organization for Industrial, Spiritual and Cultural Advancement (OISCA). Temu-latih ini berlansung di Banda Aceh dan Aceh Besar pada tanggal 20 dan 21 April 2011 pekan lalu.

Pengusaha tambak yang hadir berasal dari beberapa kecamatan diantaranya: Jangka dan Samalanga (Bireun); Gandapura, Samudera dan Geudong (Aceh Utara); serta Seruway (Aceh Tamiang).

Samsul Kamal, Program Manager, Yayasan LEBah mengatakan bahwa temu-latih ini merupakan media berbagi pengalaman dan saling belajar antara sesama petambak serta diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan teoritis dan keterampilan teknis dalam penghijauan kawasan tambak. “Kita senang peserta sangat antusias dan aktif dalam berdiskusi, kita juga berharap upaya penghijauan kawasan tambak dan pesisir di masing-masing wilayah nantinya bisa lebih berhasil,” ujar Samsul.

Hari pertama (20/04), peserta sehari penuh menjalani sesi pertemuan dalam ruang (indoor). Berbagai teknik penghijauan kawasan tambak dan pesisir dipaparkan dan didiskusikan bersama. Dihari kedua (21/04), peserta menjalani sesi luar ruang (outdoor) dan diajak untuk melakukan kunjungan lapangan (site-visit) ke Pusat Kajian Ekosistem Pesisir (PKEP) Yayasan LEBah di kawasan pesisir Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar.

Selain melihat langsung beberapa hasil dan contoh rehabilitasi tambak dan pesisir di PKEP, peserta juga diajak untuk melakukan penanaman bakau (mangrove) dan sejumlah tanaman pantai lainnya sebagai bentuk praktek langsung. “Peserta diajak untuk nanam mangrove dan pohon pantai sebagai praktek langsung,” sebut Rika Astuti, salah satu pendamping temu-latih, yang juga sebagai Koordinator Kampanye Sahabat Laut (SALUT), Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA). “Penanaman ini juga momennya pas karena bulan ini kita peringati hari bumi (22/04-red),” sambung Rika.

Ruslan, salah seorang peserta temu-latih dari Kecamatan Samudera, Aceh Utara mengungkapkan bahwa sebenarnya mereka sudah sejak lama berusaha untuk menghijaukan tambak dan memulihkan ekosistem pesisisir di wilayahnya, namun dinilainya kurang berhasil. “Bisa kita anggap kurang berhasil, penyebabnya bisa karena jenis bakau yang tidak sesuai, cara tanam yang tidak baik, sampai dengan persoalan gangguan ternak seperti lembu (sapi-red) dan kambing,” terang Ruslan. “Kita ingin pengetahuan yang diperoleh pada kegiatan ini berguna dan bisa diterapkan di wilayah kami,” Ruslan berharap.

Banda Aceh, 24 April 2011

Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA)

Periode 2011-2014

                                                                          

Dto.

 

Arifsyah M. Nasution, S.Si.

Sekretaris Jenderal (Sekjen)

HP : 081377242121

e-Mail : arifsyah@gmail.com | e-Mail cc: secretariat@kuala.or.id | jaring.kuala@gmail.com

Website: http://www.kuala.or.id/ | http://kualanews.wordpress.com/

 

Contact Person:

- (Pak) Samsul Kamal, Program Manager, Yayasan LEBah, 085260226150

- (Ibu) Rika Astuti, Pendamping, Koordinator Kampanye SALUT Jaringan KuALA, 085277103939

- (Pak) Ruslan, Peserta, 085262174313

Written by kualanews

April 24, 2011 at 11:08 pm

Posted in Uncategorized

OCABA 2011 Digagas Multipihak

leave a comment »

Siaran Pers

Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA)

Nomor: 022/SP/KuALA/IV/2011

Banda Aceh, Tanggal 20 April 2011

 Kebersihan pantai merupakan salah satu indikator utama yang menunjukkan tingkat kesadaran masyarakat terhadap pelestarian ekosistem pesisir dan laut.  Oleh karena itu upaya-upaya penyadaran masyarakat untuk lebih peduli dan bijak dalam pengelolaan sumberdaya alam pesisir dan laut penting untuk dilaksanakan.

WWF-Indonesia Program Aceh bersama lembaga-lembaga anggota Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA) dan mitra strategis melihat dan menyadari bahwa dengan terus memperkuat kemitraan serta menumbuhkan semangat dan energi bersama akan memberikan dampak yang lebih luas untuk meningkatkan kesadaran dan inisiatif banyak pihak dalam pelestarian lingkungan hidup, termasuk lingkungan pesisir dan laut.

Berdasar hal itu, pada pertemuan multipihak, Rabu pagi (20/04), bertempat di Kantor WWF-Indonesia Program Aceh, digagas secara bersama kampanye penyadaran publik yang disebut “Open Campaign Aceh Blue Action” (OCABA) 2011.

Acara utama OCABA 2011 ini adalah kegiatan pembersihan pantai (coastal cleanup) termasuk badan air lainnya seperti sungai dan waduk yang akan diselenggarakan pada awal Juni 2011 sekaligus memeringati Hari Lingkungan Hidup dan Hari Kelautan Sedunia, yang masing-masing jatuh pada tanggal 5 Juni dan 8 Juni setiap tahunnya. Disamping itu acara lainnya yang akan dilaksanakan adalah kegiatan sosialisasi mengenai pelestarian pesisir dan laut ke berbagai pihak, pemutaran film, penanaman pohon dan deklarasi bersama.

Dede Suhendra, Team Leader WWF-Indonesia Aceh Program mengatakan bahwa partisipasi dan perubahan perilaku adalah kata kunci dari kampanye publik ini. “Inisiatif multipihak ini memungkinkan kita untuk mengumpulkan berbagai dukungan kolaboratif serta memperkuat proses-proses lanjutannya kedepan,” tambah Dede.

Arifsyah M. Nasution, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Jaringan KuALA 2011-2014, yang pada awal pertemuan ini turut mempresentasikan usulan kampanye publik OCABA 2011, mengungkapkan bahwa kesadaran dan usaha untuk merubah dan berubah kearah yang lebih baik harus menjadi inspirasi individu maupun kolektif.

“Kita mungkin bisa saja menunggu agar generasi mendatang berbuat seperti yang sama-sama coba kita gagas hari ini, namun yang terbaik adalah kita melakukannya sekarang, dalam dekade ini, secara bersama, sehingga bisa lebih bermanfaat dan dilanjutkan oleh anak cucu nantinya,” sebut Arifsyah dalam presentasinya. “Kita berharap bahwa usaha-usaha lokal yang kita lakukan bersama ini akan berdampak global,” sambung Arifsyah lagi.

Pertemuan awal ini dihadiri oleh sekitar 30 orang mewakili beberapa elemen diantaranya: perwakilan instansi pemerintahan Aceh seperti Bapedal, Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Aceh dan Kota Banda Aceh), Dinas Kelautan dan Perikanan; perwakilan kalangan akademisi dan mahasiswa seperti Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Aceh dan Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan (STIK) Pante Kulu; perwakilan lembaga komunitas dan masyarakat seperti Remaja Pecinta Alam (REPALA) Indra Purwa, komunitas fotografer, komunitas pesepeda, komunitas peselam dan peselancar, dan komunitas jurnalis; perwakilan media seperti Radio Antero dan The Globe Journal; serta perwakilan LSM lingkungan seperti Walhi Aceh dan lembaga-lembaga anggota Jaringan KuALA bersama mitra strategis lainnya.

Pada pertemuan ini juga, peserta yang hadir menyepakati untuk mendukung dan menyukseskan OCABA 2011, membentuk kepanitiaan bersama, bersinergi dengan insiatif-inisiatif terkait lainnya dari berbagai pihak, dan mempercayakan Kantor WWF-Indonesia Aceh Program sebagai sekretariat bersama (sekber) untuk kampanye publik ini.

Sementara itu, dalam rangka memeringati Hari Bumi tahun ini (22/04), Jaringan KuALA melalui kegiatan bulanan rutin relawan ‘Sahabat Laut’ (SALUT), akan melaksanakan kegiatan kecil pembersihan pantai dan penanaman mangrove pada Minggu (24/04) mendatang mengusung tema “Because Earth is The ‘Blue’ Planet (Karena Bumi si Planet ‘Biru’)”.

Banda Aceh, 20 April 2011

Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA)

Periode 2011-2014

                                                                          

Dto.

 

Arifsyah M. Nasution, S.Si.

Sekretaris Jenderal (Sekjen)

HP : 081377242121

e-Mail : arifsyah@gmail.com | e-Mail cc: secretariat@kuala.or.id | jaring.kuala@gmail.com

Website: http://www.kuala.or.id/ | http://kualanews.wordpress.com/

Written by kualanews

April 20, 2011 at 10:56 pm

Posted in Uncategorized

ZEE Indonesia-Malaysia Perlu Segera Dituntaskan

leave a comment »

Siaran Pers

Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA)

Nomor: 021/SP/KuALA/IV/2011

Banda Aceh, Tanggal 13 April 2011

Insiden penangkapan 2 kapal ikan asal Malaysia beberapa waktu lalu (07/04) oleh Kapal Hiu 001 milik petugas Patroli Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta usaha penghadangan oleh 3 helikopter militer Malaysia terhadap proses penangkapan tersebut di wilayah sengketa Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) antara Indonesia dan Malaysia lebih dari patut untuk dijadikan alasan guna mempercepat, mengefektifkan dan memprioritaskan negoisasi bilateral Indonesia-Malaysia terkait penentuan ZEE kedua negara.

“Ini saatnya untuk menyelesaikan persoalan ini secara cepat dan bijak. Jangan tunggu sampai insiden berikutnya, jangan tunggu sampai tahun depan” imbuh Arifsyah. M. Nasution, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA). “Bahkan jika diplomasi bilateral terus buntu, opsi fasilitasi lembaga internasional sebagai pihak ketiga sebaiknya perlu segera dijalankan,” tambahnya lagi.

“Mengedepankan dan mempertahankan klaim-klaim sepihak baik oleh Indonesia ataupun Malaysia tidak akan menyelesaikan persoalan apapun selain menambah polemik yang berkepanjangan dan malah kalau berlarut-larut menjadi semakin tidak produktif,” lanjut Arifsyah.

Menurut Arifsyah, usaha percepatan penuntasan ini penting untuk memberikan kepastian bagi kapal-kapal nelayan kedua belah negara dalam operasi penangkapan ikan mereka, terutama di Perairan Selat Malaka. “Yang paling rugi adalah nelayan kedua belah negara jika ZEE Indonesia-Malaysia ini tidak segera dituntaskan,” terang Arifsyah. “Hari ini Indonesia tangkap nelayan Malaysia, besok bisa sebaliknya dan apakah akan terus begitu?. Yang paling rugi adalah nelayan,” tegasnya lagi.

Jaringan KuALA juga merekomendasikan agar sebelum adanya penentuan batas ZEE yang disepakati kedua belah pihak, sebaiknya kegiatan penangkapan ikan di wilayah sengketa tersebut dihimbau untuk dihentikan sementara waktu. “Kita berharap untuk sementara waktu penangkapan ikan di wilayah sengketa dihentikan dan konsensus tersebut dipatuhi oleh kedua negara,” ujar Arifsyah.

Disamping itu, Jaringan KuALA juga memberikan apresiasi terhadap keberanian personil Kapal Hiu 001 KKP yang telah bertindak dan menjalankan tugas sesuai dengan protap yang ada. Jaringan KuALA berharap operasi-operasi pengawasan yang dijalankan Kapal Hiu 001 KKP harus terus didukung, baik oleh nelayan maupun komponen TNI/Polri terkait.

“Operasi pengawasan dan pengamanan wilayah laut, serta pembatasan akses terutama di wilayah-wilayah sengketa perlu diintensifkan semata-mata untuk memastikan bahwa hak dan kedaulatan masing-masing negara dihormati bersama”, demikian Arifsyah.

Banda Aceh, 13 April 2011

Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (Jaringan KuALA)

Periode 2011-2014

                                                                          

dto.

 

Arifsyah M. Nasution, S.Si.

Sekretaris Jenderal (Sekjen)

HP : 081377242121

e-Mail : arifsyah@gmail.com | e-Mail cc: secretariat@kuala.or.id | jaring.kuala@gmail.com

Website: http://www.kuala.or.id/ | http://kualanews.wordpress.com/

Written by kualanews

April 13, 2011 at 10:53 pm

Posted in Uncategorized

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.